Peningkatan obesitas anak

 

Berdasarkan laporan World Obesity Federation 2023, jumlah kasus obesitas di masa kanak-kanak bisa bertambah dua kali lipat pada 2035 bila dibandingkan dengan 2020. Menurut World Obesity Federation, jumlah anak lelaki dan perempuan yang mungkin mengalami obesitas pada 2035 bisa mencapai 208 juta untuk anak lelaki dan 175 juta untuk anak perempuan.

 

World Obesity Federation mengingatkan bahwa ada beberapa masalah kesehatan yang berkaitan dengan masalah kegemukan atau obesitas. Masalah kesehatan terkait obesitas di dunia ini bisa menelan biaya lebih dari empat triliun dolar AS atau sekitar Rp 61.253 triliun per tahun pada 2023, atau sekitar tiga persen dari GDP dunia.

 

Obesitas yang tak diatasi dengan baik bisa memunculkan beberapa masalah kesehatan, baik pada fisik maupun mental. Beberapa masalah yang berkaitan dengan obesitas adalah penyakit jantung, diabetes, depresi, dan penyakit kronis lain.

DOK  freepik

Masyarakat Urban dan Urusan Pilih-pilih Makanan

Masyarakat di perkotaan cenderung lebih mudah menjangkau informasi seputar kesehatan.

Oleh: GUMANTI AWALIYAH

Masyarakat urban, dinilai memiliki kepedulian (awareness) yang lebih tinggi terhadap gaya hidup sehat dan pemilihan makanan yang lebih sehat, dibandingkan dengan masyarakat di daerah. Hal itu diungkap oleh Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana, dalam diskusi memeringati Hari Obesitas Sedunia.

 

"Menurut pendapat saya, bukan berdasarkan pada penjualan Nutrifood, di perkotaan itu awareness orang terhadap hidup lebih sehat, pemilihan hidup yang lebih sehat itu cenderung lebih tinggi dibandingkan di daerah," kata Susana di Jakarta, Rabu (1/3/2023).

 

Menurut dia, masyarakat di perkotaan cenderung lebih mudah menjangkau informasi seputar kesehatan. Sementara itu, edukasi tentang kesehatan dan pilihan makanan sehat di daerah masih belum optimal.

 

"Tapi, makin kesini edukasi semakin banyak dilakukan, apalagi setelah gencarnya media sosial. Saya yakin ke depannya akan semakin banyak orang yang aware akan pilihan makanan yang lebih sehat, termasuk di daerah," kata Susana.

DOK  freepik

Pola makan sehat salah satunya dilakukan dengan membatasi asupan gula, garam, dan lemak harian. Meliza Suhartatik, selaku Pengawas Farmasi Makanan Ahli Muda, mengatakan bahwa sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI, idealnya dalam sehari masyarakat dapat mengonsumsi gula tidak lebih dari 50 gram (setara empat sendok makan), garam tidak lebih dari lima gram (setara satu sendok teh), dan lemak tidak lebih dari 67 gram (setara lima sendok makan).

 

"Ini pemahaman yang penting diketahui setiap orang, karena sampai sekarang masih banyak yang suka minum makanan manis, berlemak, atau gurih melebihi batas," kata Meliza.

 

Menurut dia, langkah sederhana untuk membatasi asupan gula, garam dan lemak, adalah dengan cermat membaca label kemasan dan menjadikannya sebagai kebiasaan. Dengan demikian, masyarakat akan lebih cerdas untuk memilah zat gizi apa yang harus dipenuhi dan yang harus dibatasi agar terhindar dari berbagai penyakit, salah satunya obesitas.

 

Dalam rangka upaya promotif dan preventif dalam penanggulangan Penyakit Tidak Menular (PTM), Badan POM telah melakukan kampanye agar konsumen memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan gizinya. Salah satu cara untuk memudahkan masyarakat memilih pangan yang lebih sehat adalah dengan mencantumkan keterangan Logo Pilihan Lebih Sehat pada pangan olahan yang memenuhi kriteria kandungan gula, garam, lemak dan/atau zat gizi lainnya.

 

"Harapannya masyarakat dapat bijak memilih produk dengan Logo Pilihan Lebih Sehat dan mengonsumsinya dalam jumlah yang wajar," jelas Meliza.

Ke depan, akan semakin banyak orang yang aware akan pilihan makanan yang lebih sehat.

top

DOK  freepik

Ubah Perspektif Negatif

Stigma sangat memengaruhi kesehatan mental

Oleh: DESSY SUSILAWATI

Obesitas dan obesitas sentral merupakan masalah kesehatan global yang terus mengalami peningkatan kasus setiap tahunnya, dengan perkiraan akan berdampak pada 1,9 miliar penduduk dunia pada 2035. Masalah peningkatan prevalensi obesitas juga terjadi di negara berkembang seperti Indonesia.

 

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes RI Dr Eva Susanti SKp MKes mengatakan, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi obesitas di kalangan orang dewasa Indonesia meningkat dari 19,1 persen pada 2007 menjadi 35,4 persen pada 2018.

 

Tren ini menunjukkan obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling mendesak di Indonesia. "Peningkatan ini kemungkinan disebabkan oleh dua faktor yaitu stigma mengenai obesitas dan ketidaksadaran akan tingkat keseriusan kondisi obesitas," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Republika, Sabtu (4/3/2023).

 

Mengubah persepsi negatif mengenai penyakit tersebut penting karena stigma yang ada membuat masyarakat beranggapan bahwa obesitas bukanlah penyakit, namun kegagalan pribadi. Walaupun fakta mengatakan bahwa faktor genetik atau keturunan berkontribusi pada 40 sampai 70 persen kasus obesitas.

 

Stigma ini tentu memengaruhi kesehatan mental dan fisik pasien, dan dapat menghentikan mereka dalam mencari perawatan medis yang diperlukan.

 

Berbicara mengenai rendahnya kesadaran akan keseriusan obesitas, studi terbaru mengungkapkan bahwa prevalensi obesitas di Indonesia tidak disadari ketika dinilai menggunakan batas IMT saat ini (obesitas ≥ 27,0). Hal ini menyebabkan walaupun ada peningkatan kasus penyakit kronis yang berkaitan dengan obesitas, prevalensi obesitas di Indonesia masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara maju.

 

Obesitas dapat menyebabkan komplikasi, seperti hiperglikemia, diabetes tipe dua, dan penyakit kardiovaskular.

 

Obesitas juga bisa menyebabkan kematian. Menurut penelitian, setiap lima unit indeks massa tubuh (IMT) di atas 25 kg/m2, dapat meningkatkan risiko kematian sebesar 30 persen. Obesitas juga bertanggung jawab atas 4,7 juta kematian dini setiap tahunnya.

Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling mendesak di Indonesia.

Revisi nilai ambang batas

 

Ketua Bidang Organisasi Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) dr Dicky L Tahapary SpPD-KEMD, PhD mengatakan, pihaknya telah merilis publikasi yang menyarankan untuk merevisi nilai batas IMT ≥25 kg/m2. Menurutnya ambang batas ini mungkin lebih tepat untuk mendefinisikan obesitas pada populasi orang dewasa di Indonesia.

 

"Kami juga menyarankan untuk menambahkan Edmonton Obesity Staging System (EOSS) ke dalam klasifikasi antropometri untuk evaluasi klinis obesitas yang lebih baik,” ujarnya.

 

Edmonton Obesity Staging System adalah sistem analisa yang mencakup faktor metabolik, fisik, psikologis dan evaluasi klinis untuk memberikan opsi intervensi obesitas yang terbaik. Sistem ini mengklasifikasikan obesitas ke dalam lima kategori (nol sampai empat tingkatan).

 

Tingkat nol menunjukkan tidak ada faktor risiko terkait obesitas atau gangguan kesehatan apa pun dan tingkat empat menunjukkan kecacatan parah akibat penyakit kronis terkait obesitas. Selain itu, batas lingkar pinggang yang lebih rendah dari standar WHO harus diterapkan di Indonesia.

 

Di banyak populasi Asia, prevalensi risiko metabolik yang tinggi terjadi pada WC yang lebih rendah dibandingkan dengan orang Eropa. “Penting bagi kita untuk mengedukasi masyarakat bagaimana memahami dan melakukan pengukuran lingkar pinggang sendiri,” tambah Dicky.

 

Dicky menyimpulkan, temuan tersebut mendorong revisi batas optimal untuk pencegahan dini dan pengendalian obesitas.

DOK  freepik

Ragam Faktor Kegemukan

Dua dari tiga populasi anak, remaja dan dewasa, mengonsumsi minuman manis satu kali atau lebih dalam sehari.

Oleh: DESSY SUSILAWATI

Angka obesitas trennya makin meningkat dari tahun ke tahun. Penyebabnya tentu bermacam-macam, salah satunya, maraknya gerai makanan dan minuman yang tinggi garam, gula dan lemak (GGL), termasuk juga  gencarnya promosi di media sosial.

 

Hal ini diakui oleh UNV Overweight Prevention Specialist UNICEF, Astrid C Padmita. Ia menjelaskan, pihak UNICEF telah melakukan studi analisis lanskap kelebihan berat badan dan obesitas berdasarkan data survei nasional riset kesehatan dasar (riskesdas) 2018. Hasilnya, ditemukan bahwa satu dari lima anak usia sekolah (usia lima sampai 12 tahun-Red), satu dari tujuh remaja (usia 13 sampai 18 tahun), satu dari tiga anak usia dewasa (usia lebih dari 18 tahun) mengalami kelebihan berat badan atau obesitas di Indonesia.

 

"Sebenarnya jika dilihat dari trennya, 2010, 2013, 2018, trennya selalu ada peningkatan," ungkapnya dalam Talkshow: The Hidden Crisis of Obesity, Sabtu (4/3/2023).

 

Jika dibandingkan dengan target global, Indonesia dikategorikan negara dengan tingkatan obesitas semakin cepat. Ada target global dari WHO untuk tidak adanya peningkatan obesitas untuk usia dewasa, anak dan remaja.

 

Namun, lanjut Astrid, di Indonesia sendiri masih sedikit kemungkinan untuk mencapai target world health assembly di 2025, karena trennya semakin meningkat.

DOK  WIKIPEDIA

Faktor individu dan lingkungan

 

Menurut Astrid, tren ini meningkat karena secara garis besar ada dua faktor yaitu faktor individu dan faktor lingkungan. Faktor individu adalah gaya hidup dan biologis.

 

Sementara dari faktor lingkungan obesogenik atau lingkungan yang mendukung masyarakat sampai akhirnya mengalami peningkatan berat badan dan akhirnya obesitas. Hal ini, ditandai dengan semakin mudahnya akses kepada makanan dan minuman tidak sehat yang tinggi GGL.

 

Semakin diinginkannya makanan dan minuman tidak sehat itu, harganya juga semakin terjangkau. "Terkait fenomena lingkungan obesogenik ini yang kita lihat sekarang ini semakin meningkat pertumbuhan gerai-gerai makanan cepat saji, makanan modern, minimarket dan swalayan yang menjual makanan olahan yang GGL," paparnya.

 

Kemudian faktor lainnya adalah semakin gencarnya promosi dan pemasaran makanan minuman olahan tinggi GGL di berbagai tempat, di tempat umum sekolah dan terutama di saluran media seperti media sosial. "Media sosial ini sulit dimonitor, terutama pada anak dan remaja," ujarnya.

 

Faktor lainnya, menurut Astrid, adalah ketersediaan air yang layak untuk diminum. Karena sebenarnya jika sumber air yang layak diminum itu ada, maka akan mendorong masyarakat meningkatkan pola hidup sehat. Mendorong mereka untuk sering konsumsi air putih, serta menjadikan alternatif untuk minuman manis itu sendiri.

DOK  WIKIPEDIA

"Karena semakin terbatasnya akses ketersedian air minum, jadi semakin mungkin juga orang memilih minuman manis," ujarnya.

 

Dari hasil studi lanskap itu, mereka melihat dari hasil survei nasional bahwa beberapa tahun lalu, bahwa dua dari tiga populasi anak, remaja dan dewasa, mengonsumsi minuman manis satu kali atau lebih dalam sehari.

 

"Semakin sering mengonsumsi minuman manis maka semakin risiko meningkatkan berat badan berlebih, obesitas dan dikhawatirkan lagi terkena penyakit tidak menular seperti diabetes melitus," tambahnya.

 

Selain itu, semakin sulit atau terbatasnya masyarakat untuk melakukan aktivitas fisik atau olahraga. Data menunjukkan, satu dari tiga orang dewasa usia 20 tahun keatas kurang melakukan aktivitas fisik, dua dari tiga remaja (10 sampai 14 tahun) juga kurang melakukan aktivitas fisik. "Ini salah satu faktor mengapa semakin tinggi angka obesitas karena kurangnya aktivitas fisik," ujarnya.

Dunia di Tepi Jurang Krisis Obesitas

Lonjakan kasus obesitas tampak terjadi dengan cepat di antara anak-anak.

Atlas World Obesity Federation 2023 memprediksi sekitar 51 persen populasi dunia akan memiliki tubuh gemuk atau obesitas pada 2035. Bila tak ada intervensi yang dilakukan, akan ada lebih dari empat miliar orang di dunia yang memiliki berat badan berlebih dalam 12 tahun ke depan.

 

Sebagai perbandingan, pada 2020, proporsi masyarakat dunia yang masuk dalam kategori kegemukan dan obesitas mencapai 38 persen, atau sekitar 2,6 miliar orang. Mengacu pada panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seseorang bisa disebut bertubuh gemuk bila memiliki indeks massa tubuh (IMT) di atas 25 dan dikatakan obesitas bila memiliki IMT di atas 30.

 

Menurut laporan World Obesity Federation 2023, lonjakan kasus obesitas tampak terjadi dengan cepat di antara anak-anak. Selain itu, peningkatan kasus obesitas juga tampak signifikan di negara-negara berpendapatan rendah.

 

Menurut laporan ini, hampir semua negara yang diprediksi akan mengalami lonjakan kasus obesitas merupakan negara berpendapatan rendah dan berada di area Asia dan Afrika.

 

"Merupakan hal yang mengkhawatirkan melihat angka obesitas meningkat paling cepat di antara anak kecil dan remaja," ujar Presiden World Obesity Federation Louise Baur, seperti dilansir Fox News.

 

Melihat tren seperti ini, Baur menilai para pembuat kebijakan di berbagai negara perlu bertindak untuk mencegah permasalahan obesitas ini semakin memburuk. Bila negara tak turut andil, Baur mengatakan negara akan turut terdampak karena harus menanggung dampak kesehatan, sosial, serta ekonomi yang mungkin timbul akibat meluasnya kasus obesitas di kalangan generasi muda.

DOK  freepik

Oleh: ADYSHA CITRA RAMADHANI, DESY SUSILAWATI

Da'an Yahya/Republika